ANALISIS PENGGUNAAN TATA BAHASA INDONESIA DALAM PENULISAN
KARYA TULIS ILMIAH : STUDI KASUS ARTIKEL ILMIAH
Retno Asihanti Setiorini
Abstrak
Ragam
bahasa ilmiah yang digunakan dalam karya tulis ilmiah harus mengikuti kaidah
tata bahasa
Indonesia
dan pedoman ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan. Tujuan dalam penulisan
ini adalah
mendeskripsikan
ciri-ciri bahasa ilmiah dalam karya tulis ilmiah, khususnya artikel ilmiah,
serta melihat
implementasi
penggunaan tata bahasa Indonesia dalam atikel ilmiah. Analisis penggunaan tata
bahasa
dalam
artikel ilmiah pada tulisan ini dilakukan dengan analisis pustaka. Sebagai alat
bantu untuk
mendeskripsikan
bahasa ilmiah, digunakan kaidah tata bahasa Indonesia sesuai dengan aturan
berbahasa
yang
ditetapkan oleh Pusat Bahasa Indonesia, yaitu Tata Bahasa Baku Bahasa
Indonesia, Ejaan Bahasa
Indonesia
yang Disempurnakan, dan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Standar berbahasa yang
perlu
diperhatikan
dalam ragam bahasa ini meliputi pemilihan kata yang tepat, kalimat efektif,
kepaduan
paragraf,
dan pedoman penulisan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa dalam artikel ilmiah,
masih dapat
ditemui
penggunaan bahasa yang tidak sesuai dengan standar aturan berbahasa Indonesia.
Keyword:
Writing skill, Scientific report, Bahasa Indonesia.
1. PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Disadari
atau tidak, penggunaan bahasa akan berubah sesuai dengan kebutuhan penuturnya.
Sebagai
contoh, bahasa yang digunakan saat seseorang berpidato atau berceramah dalam
sebuah seminar
akan
berbeda dengan bahasa yang digunakannya saat mengobrol atau bercengkrama dengan
keluarganya.
Bahasa
itu akan berubah lagi saat ia menawar atau membeli sayuran di pasar. Kesesuaian
antara bahasa dan
pemakaiannya
ini disebut ragam bahasa. Dalam penggunaan bahasa (Indonesia) dikenal
berbagai macam
ragam
bahasa dengan pembagiannya masing-masing, seperti ragam formal-semi
formal-nonformal; ujarantulisan;
jurnalistik;
iklan;
populer
dan
ilmiah.
Dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001) dijelaskan bahwa ilmiah adalah
bersifat ilmu;
secara
ilmu pengetahuan; memenuhi syarat (kaidah) ilmu pengetahuan. Dari pengertian
tersebut dapat
disimpulkan
bahwa karya tulis ilmiah adalah karya tulis yang bersifat keilmuan. Sifat
keilmuan ini terlihat
pula
dalam penggunaan bahasanya. Ragam bahasa yang digunakan dalam sebuah karya
tulis ilmiah adalah
ragam
bahasa ilmiah.Ragam bahasa ilmiah merupakan bahasa dalam dunia pendidikan.
Karena penutur
ragam
bahasa ini adalah orang yang berpendidikan, bahasa yang digunakan adalah bahasa
yang dipelajari
di
sekolah/institusi pendidikan. Ragam bahasa ini dikenal pula dengan istilah
ragam bahasa baku/standar.
Menurut
Hasan Alwi dkk. (2003: 13—14), ragam bahasa ini memiliki dua ciri, yaitu
kemantapan dinamis
dan
kecendikiawan. Kemantapan dinamis berarti aturan dalam ragam bahasa ini telah
berlaku dengan
mantap,
tetapi bahasa ini tetap terbuka terhadap perubahan (terutama dalam kosakata dan
istilah). Ciri
kecendikiawan
terlihat dalam penataan penggunaan bahasa secara teratur, logis, dan masuk
akal. Ragam
bahasa
ini bersifat kaku dan terikat pada aturan-aturan bahasa yang berlaku.
Sebagai
bahasa baku, terdapat standar tertentu yang harus dipenuhi dalam penggunaan
ragam
bahasa
ilmiah. Standar tersebut meliputi penggunaan tata bahasa dan ejaan bahasa
Indonesia baku. Tata
bahasa
Indonesia yang baku meliputi penggunaan kata, kalimat, dan paragraf yang sesuai
dengan kaidah
baku.
Kaidah tata bahasa Indonesia yang baku adalah kaidah tata bahasa Indonesia
sesuai dengan aturan
berbahasa
yang ditetapkan oleh Pusat Bahasa Indonesia. Sementara itu, kaidah ejaan bahasa
Indonesia yang
baku
adalah kaidah ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan. Sesuai dengan ragam
bahasanya, aturan-
aturan
ini mengikat penggunaan bahasa dalam karya tulis ilmiah.
*
Pegawai Pada PDII-LIPI
16
Karya
tulis ilmiah terbagi menjadi enam jenis, yaitu skripsi, tesis, disertasi (tugas
akhir dalam
pendidikan
tinggi); laporan penelitian; makalah seminar; artikel ilmiah; makalah; dan
laporan eksekutif.
Pembahasan
karya tulis ilmiah dalam tulisan ini akan difokuskan pada artikel ilmiah.
Pemilihan ini
dilakukan
dengan dasar pemikiran artikel ilmiah yang dimuat dalam jurnal/ majalah ilmiah
merupakan
salah
satu bentuk karya tulis ilmiah yang sudah dipublikasikan.
1.2 Rumusan
Masalah
Penggunaan
bahasa ilmiah diikuti dengan tuntutan mengikuti kaidah tata bahasa dan ejaan
bahasa
Indonesia
yang baku. Namun, ada pula penulis artikel ilmiah yang menggunakan susunan
kalimat kurang
baku
Ada dua rumusan masalah yang akan dibahas dalam tulisan ini. Rumusan masalah
tersebut adalah
bagaimana
ciri penggunaan bahasa ilmiah yang baik? Bagaimana implementasi penggunaan tata
bahasa
Indonesia
pada artikel ilmiah?
1.3 Tujuan
dan Manfaat Penulisan
Tujuan
dalam penulisan ini adalah mendeskripsikan ciri-ciri bahasa ilmiah dalam karya
tulis
ilmiah,
khususnya artikel ilmiah, serta melihat implementasi penggunaan tata bahasa
Indonesia dalam
artikel
ilmiah. Tulisan ini diharapkan dapat membantu memberi gambaran mengenai bahasa
ilmiah.
Analisis
ini dapat digunakan sebagai acuan para penulis artikel untuk menulis dengan
menggunakan tata
bahasa
yang baku.
1.4 Metode
Analisis penggunaan tata bahasa dalam artikel
ilmiah pada tulisan ini dilakukan dengan analisis
pustaka
dan observasi terhadap penggunaan bahasa dalam majalah-majalah ilmiah. Sebagai
alat bantu
untuk
mendeskripsikan bahasa ilmiah, digunakan kaidah tata bahasa Indonesia sesuai
dengan aturan
berbahasa
yang ditetapkan oleh Pusat Bahasa Indonesia, yaitu Tata Bahasa Baku Bahasa
Indonesia, Ejaan
Bahasa
Indonesia yang Disempurnakan, dan Kamus Besar Bahasa
Indonesia. Implementasi penggunaan
bahasa
dalam artikel ilmiah dilihat secara acak dalam beberapa artikel ilmiah
berbahasa Indonesia.
Pembahasan
mengenai penggunaan bahasa dalam karya tulis ilmiah ini dibagi dalam tujuh
bagian.
Bagian
pertama, pendahuluan, menjelaskan dasar pemikiran tulisan ini secara sederhana.
Bagian-bagian
selanjutnya,
menjelaskan penggunaan ragam bahasa ilmiah tersebut secara spesifik yaitu
format penulisan,
pilihan
kata, kalimat efektif, kesatuan wacana, dan pedoman penulisan (ejaan). Sebagai
penutup, disajikan
pula
kesimpulan singkat.
HASIL
PEMBAHASAN
Format
Penulisan
Artikel
ilmiah merupakan tulisan ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah.
Setiap jurnal
memiliki
syarat penyajian tulisan yang berbeda-beda. Walaupun begitu, unsur-unsur
tulisan yang biasa
dapat
ditemui adalah abstrak, kata kunci, pendahuluan (latar belakang, tujuan,
masalah penelitian, dan
metode
penelitian), batang tubuh (hasil dan pembahasan penelitian), dan kesimpulan.
Karena keterbatasan
tempat
dalam jurnal ilmiah, pembatasan jumlah halaman dalam artikel ilmiah berlaku
ketat.
Tiap
bidang ilmu mempunyai konvensi naskah yang berbeda-beda. Namun secara umum,
pembagian dalam
sebuah
kerangka pikiran (tulisan maupun ujaran) terdiri atas pendahuluan, isi, dan
penutup. Setiap bagian
tersebut
berkaitan satu sama lain sehingga membangun satu kepaduan yang utuh.
Secara tradisional, bidang ilmu dibagi menjadi
ilmu alam dan sosial. Jika diperhatikan, ada
perbedaan
format penulisan pada karya tulis ilmiah dua bidang ilmu ini. Ilmu alam
menggunakan alam
sebagai
objek penelitiannya. Dalam penulisan karya tulis ilmiah bidang ilmu alam,
langkah-langkah
penelitian
dicantumkan secara terperinci sehingga keteraturan/ urutan penulisan terlihat
secara eksplisit.
Berbeda
dengan ilmu alam, ilmu sosial menggunakan perilaku manusia sebagai objek
penelitiannya. Oleh
karena
itu, dalam karya tulis ilmiah bidang sosial, pembahasan penelitian disajikan
dalam bentuk
penggambaran
(deskriptif).
17
Pilihan
Kata (Diksi)
Pilihan kata atau diksi
dalam sebuah karya tulis ilmiah akan mempengaruhi kesan dan makna yang
ditimbulkan.
Hal ini merupakan salah satu unsur dalam artikel ilmiah. Pemilihan kata dalam
satu ragam
bahasa
berkaitan dengan ketepatan pemilihan kata dan kesesuaian pemilihan kata.
Menurut
Gorys Keraf (2005: 87), ketepatan pemilihan kata berkaitan dengan menggunakan
kata secara
tepat
yang berarti menggunakan kata sesuai dengan makna yang ingin dicapai. Sementara
itu, kesesuaian
pemilihan
kata berkaitan dengan suasana dan lingkungan berbahasa. Dalam artikel ilmiah,
suasana dan
lingkungan
bahasa yang digunakan adalah formal dengan bahasa standar/baku. Dalam makalah
ini, dibahas
beberapa
hal yang berkaitan dengan ketepatan dan kesesuaian pemilihan kata dalam artikel
ilmiah, yaitu:
1. Sinonim
a.
air kencing—air pipis—air seni—urin
Air
kencing adik berwarna keruh.
Air
pipis adik berwarna keruh.
Air
seni adik berwarna keruh.
Urin
adik berwarna keruh.
Sinonim
merujuk pada kata-kata dengan makna yang (hampir) serupa. Pada contoh
penggunaan
sinonim
di atas, bahasa yang standar (baku) adalah air seni dan atau urin (dalam bidang
kedokteran).
b. mengemukakan—mengatakan—menyuarakan.
Ia mengemukakan
pendapatnya.
Ia mengatakan
pendapatnya.
Ia menyuarakan
pendapatnya.
Untuk
menhindari kebosanan karena menggunakan kata yang itu-itu saja, dapat dipilih
sinonim
yang
penggunaannya tepat (sesuai konteks)
2. Kata
umum—kata khusus
Kendaraan—Kendaraan bermotor—Kendaraan
(bermotor) umum—Angkot
a. Penelitian
terhadap gas yang dihasilkan kendaraan dianggap berhasil.
b. Penelitian
terhadap gas yang dihasilkan kendaraan bermotor dianggap berhasil.
c. Penelitian
terhadap gas yang dihasilkan kendaraan umum dianggap berhasil.
d. Penelitian
terhadap gas yang dihasilkan angkot dianggap berhasil.
Setiap
kata yang digunakan pada kalimat-kalimat di atas, semakin lama semakin khusus.
Hal ini
terlihat
dari semakin khusus (sempit) makna yang digunakan pada kata-kata di atas
(sesuai urutannya).
Kata
yang semakin sempit tujuannya itulah yang disebut dengan kata khusus.
3. Kata
indria
Kata
indria merupakan kata yang menunjukkan perasaan/ pengalaman dengan pancaindra,
seperti
panas,
manis, keras, apak, desing, dan mengilat. Penggunaan kata-kata indria ini dapat
saling tumpang
tindih.
Gejala seperti ini disebut dengan sinestesia. Perhatikan contoh berikut.
a.
Ibu membuat teh manis.
b.
Gadis itu manis sekali.
4. Kelangsungan
pilihan kata
Kelangsungan
pilihan kata berkaitan kata demi kata yang dipilih sehingga dapat menyampaikan
gagasan
secara tepat, efektif, dan efisien. Hal ini menyangkut penghamburan kata,
ambiguitas makna,
kesalahan
ejaan, dsb. Perhatikan contoh-contoh berikut:
SALAH
BENAR
Praktek
Praktik
Analisa
Analisis
Merubah
Mengubah
Multi
media Multimedia
Dia
punya nama Namanya
Banyak
para ibu Banyak ibu/para ibu
18
5. Istilah
dan jargon
Istilah
adalah kata atau gabungan kata yang secara cermat mengungkapkan makna konsep,
proses,
keadaan,
atau sifat yang khas dalam bidang ilmu tertentu. Sementara itu, jargon adalah
kata-kata teknis
atau
rahasia dalam suatu bidang ilmu tertentu, dalam bidang seni, perdagangan,
kumpulan rahasia, atau
kelompok-kelompok
khusus lainnya (Keraf, 2005: 107). Antara istilah dan jargon, terdapat
ketumpangtindihan
makna. Pada dasarnya, jargon merupakan bahasa atau kata yang khusus
sekali.
6. Kata
populer dan ilmiah
Kata
populer adalah kata yang lazim digunakan oleh masyarakat luas dalam kegiatan
sehari-hari.
Kata
ini tentu berbeda dengan kata ilmiah yang merujuk pada bahasa ilmiah. Untuk
lebih jelasnya,
perhatikan
contoh berikut:.
a. orang
sakit—pasien (kata populer—kata ilmiah)
b. pecahan—fraksi
(kata populer—kata ilmiah)
c. kolot—konservatif
(kata populer—kata ilmiah)
7. Kata
slang
Kata
slang adalah kata yang digunakan pada ragam percakapan yang khas. Misalnya,
bahasa gaul.
Bahasa
seperti ini tidak bisa digunakan dalam karya tulis ilmiah karena merupakan
bahasa nonstandar.
8. Idiom
Idiom
adalah pola-pola struktural yang menyimpang dari kaidah-kaidah bahasa yang
umum, biasanya
berbentuk
frase, sedangkan artinya tidak bisa diterangkan secara logis atau gramatikal
dengan bertumpu
pada
makna-makna yang membentuknya (Keraf, 2005: 109) Contohnya, makan garam,
banting tulang.
Selain
itu, dalam menulis karya tulis ilmiah perhatikan pula penggunaan kata depan
yang dilekatkan secara
idiomatis
pada kata kerja tertentu, seperti berbahaya bagi, selaras dengan,
terdiri atas.
Kalimat
Efektif
Kalimat
efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan penutur/ penulisnya
dengan baik
sehingga
pendengar/ pembaca akan menangkap gagasan di balik kalimat tersebut dengan
tepat. Karena
tujuan
seseorang menulis adalah mengkomunikasikan gagasan yang dimilikinya, kalimat
efektif merupakan
sarana
yang tepat untuk mencapai tujuan tersebut. Dalam kegiatan menulis, populer
maupun ilmiah,
laporan
maupun artikel, kalimat yang digunakan berupa kalimat efektif. Menurut Gorys
Keraf (1993)
syarat-syarat
kalimat efektif adalah sebagai berikut.
1. Kesatuan
Gagasan
Kesatuan
gagasan mengacu pada bagaimana perilaku fungsi-fungsi kalimat dalam satu
kalimat.
Syarat
utama untuk membentuk sebuah kalimat lengkap adalah adanya fungsi subjek dan
predikat. Jika
dirasa
perlu, fungsi-fungsi ini dapat ditambahkan dan diperluas dengan fungsi
lainnya.
Contoh:
a.
Pada pembiayaan mudhabarah tidak berpartisipasi dalam manajemen bisnis yang
dibiayainya.
Kalimat
di atas tidak menunjukkan kesatuan gagasan karena subjek dalam kalimat di atas
tidak ada.
Siapakah
yang tidak berpartisipasi dalam manejemen bisnis yang dibiayainya? Mengacu
kepada
siapakah
partikel –nya pada kata dibiayainya? Bandingkan dengan kalimat
berikut. Pada pembiayaan
mudhabarah,
konsumen tidak berpartisipasi dalam manajemen bisnis yang dibiayainya.
b.
Karena asam amino ini merupakan faktor pembatas pada pakan nabati.
Kata
karena merupakan konjungsi yang menunjukkan hubungan alasan/sebab.
Konjungsi ini berfungsi
menghubungkan
anak kalimat (alasan/sebab) dengan induk kalimat dalam kalimat majemuk
bertingkat.
Pada
kalimat di atas, penyebab (induk kalimat) tidak nampak.
2. Koherensi yang baik dan kompak.
Koherensi
yang baik dan kompak mengacu pada hubungan antarunsur pembentuk kalimat. Dalam
hal
ini,
urutan kata menjadi hal yang perlu diperhatikan. Perhatikan contoh berikut:
19
a.
Tes tersebut dibuat oleh guru bidang studi yang berjumlah 25 item.
b.
Tes yang berjumlah 25 item tersebut dibuat oleh guru bidang studi.
3. Penekanan
Dalam
sebuah kalimat, umumnya terdapat satu hal/topik yang ingin ditekankan. Melalui
beberapa cara,
penekanan
tersebut akan terasa nyata. Coba perhatikan contoh berikut ini.
a. Beberapa
daerah sudah mencapai TFR kurang dari dua dan angka prevelensi kontrasepsi yang
cukup
tinggi.
b. TFR
kurang dari dua dan angka prevelensi kontrsepsi yang cukup tinggi sudah dicapai
beberapa
daerah.
c. Beberapa
daerah pun sudah mencapai kurang dari dua angka prevelensi kontrasepsi yang
cukup
tinggi.
Dari
contoh di atas, terlihat cara untuk memberi penekanan adalah meletakkan topik
di awal kalimat
atau
menggunakan partikel penekan (pun). Selain cara di atas, dapat pula digunakan
pertentangan atau
repetisi
(pengulangan).
4. Variasi
Untuk
menghindari kebosanan karena menggunakan kata atau pola kalimat yang itu-itu
saja,
digunakan
variasi. Dalam kosakata, variasi berkaitan erat dengan sinonim. Untuk lebih
jelasnya,
perhatikan
kembali pembahasan mengenai pilihan kata (sinonim).
5. Paralelisme
Paralelisme
menekankan pada penggunakan jenis dan pola yang sama dalam kalimat.
Fungsi-fungsi
dalam
satu kalimat terbentuk dari pola yang sama. Misalnya, jika dalam sebuah kalimat
terdapat
predikat
lebih dari satu, imbuhan dalam predikat-predikat tersebut sama. Perhatikan
kalimat-kalimat
berikut.
a. Fungsi
enzim di antaranya adalah membantu proses metabolisme dan dapat digunakan
mencegah
infeksi.
b. Fungsi
enzim di antaranya adalah membantu proses metabolisme dan mencegah
infeksi.
6. Penalaran
atau Logika
Salah
satu ciri bahasa ilmiah adalah logis. Hal ini berarti pernyataan dalam kalimat
yang
digunakan
dalam karya tulis ilmiah sesuai dengan logika. Perhatikan contoh berikut.
a.
Secara umum, pendekatan kultural lebih optimis daripada kedua pendekatan
sebelumnya...
Pertanyaan
yang muncul dari kalimat di atas adalah, siapa yang merasa lebih optimis?
Apakah
mungkin,
sebuah pendekatan (dalam hal ini pendekatan kultural) dapat merasakan
optimisme?
Perasaan
(optimis) tentunya dapat dirasakan oleh manusia, bukan pendekatan.
Selain
syarat di atas, ada pula satu hal lagi yang perlu diperhatikan, yaitu panjang
kalimat. Logikanya,
semakin
kompleks dan panjang kalimat, maka semakin sulit pula kalimat tersebut
dipahami.
Perhatikan
kalimat berikut.
Salah
satu sistem yang sangat mungkin dikembangkan di Indonesia yang mayoritas
penduduknya
beragama
islam adalah dengan mengoptimalkan fungsi zakat, di antaranya dengan
menciptakan
akumulasi
modal yang diharapkan dapat menciptakan dunia usaha baru, terutama pada sektor
ekonomi
kerakyatan dalam bentuk industri skala kecil sehingga dari sektor ekonomi yang
dibentuk
akan
dapat menyerap banyak tenaga kerja yang pada akhirnya akan berdampak kepada
ekonomi
rakyat.
Dalam makalah yang disampaikan Felicia N.
Utorodewo dalam seminar ”Sejarah Bahasa
Melayu/Bahasa
Indonesia dalam Jurnalistik” di FIB UI disebutkan penelitian Mencher mengenai
panjang
kalimat, yaitu:
20
Tabel
1. Hubungan Antara Panjang Kalimat dan Keterbacaan
Panjang
Kalimat Keterbacaan
8
kata atau kurang Sangat mudah dipahami
11
kata Mudah dipahami
14
kata Agak mudah dipahami
17
kata Standar
21
kata Agak sulit dipahami
25
kata Sulit dipahami
29
kata atau lebih Sangat sulit dipahami
Dalam
bahasa Indonesia belum diadakan penelitian yang dipublikasikan mengenai
keefektifan kalimat
berdasarkan
jumlah kata. Namun, penelitian di atas dapat memberikan sedikit gambaran
mengenai
hubungan
antara keefektifan kalimat dan jumlah kata dalam satu kalimat. Walaupun begitu,
ada
pengecualian
untuk kalimat panjang dengan pembagian yang jelas. Perhatikan pula contoh
berikut:
Berdasarkan
rumusan masalah seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, maka tujuan studi
yang ingin
dicapai
adalah menganalisis derajat desentralisasi fiskal pada awal otonomi daerah
pemerintah kabupaten
dan
kota di Provinsi Jawa Timur; menganalisis tingkat kemandirian pemerintahan
kabupaten dan kota
pada
awal otonomi daerah di Provinsi Jawa Timur; menganalisis elasitisas Pendapat
Asli Daerah (PAD)
pada
awal otonomi daerah di Provinsi Jawa Timur; mengetahui jenjang posisi
pemerintahan kabupaten
dan
kota pada awal otonomi daerah di Provinsi Jawa Timur.
0 comments:
Post a Comment